Jenis Data Kuantitatif

Data penelitian dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang dinyatakan dalam bentuk kata, kalimat, dan gambar. Data kualitatif dapat diperoleh melalui wawancara, observasi, diskusi atau pengamatan. Sedangkan data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka, atau data kualitatif yang dikuantifikasikan. Tulisan ini akan fokus membahas mengenai data kuantitatif yang sebagian besar merupakan inti sari dari salah satu chapter dalam tulisan Azwar (2015). 


Menurut kontinyuitasnya, data kuantitatif dapat dibagi menjadi dua yakni data diskrit dan kontinyu. Data diskrit adalah data yang angka-angkanya memiliki kemungkinan nilai terbatas dan antara satu angka dengan angka yang lain jelas terpisah. Contohnya adalah banyak kursi di kelas. Tidak mungkin ada 2,5 kursi di kelas, yang ada hanyalah 2 kursi atau 3 kursi di kelas. Data kontinyu adalah data yang angka-angkanya memiliki kemungkinan nilai tidak terbatas dalam kisaran tertentu. Contohnya usia dapat dinyatakan 10,2 tahun.  

Selain dibedakan menurut kontinyuitasnya, data kuantitatif juga dapat dibedakan berdasarkan level pengukurannya. Adanya level pengukuran pada masing-masing jenis data ini penting untuk diketahui karena akan berpengaruh pada bagaimana kita memperlakukan atau mengoperasionalkan data tersebut. Menurut level pengukurannya, data kuantitatif terbagi atas empat jenis.

Data Nominal
Angka nominal bukanlah hasil prosedur pengukuran, melainkan hasil pemberian. Artinya angka ini hanya sebagai label atau identitas yang membedakan satu objek/subjek dengan objek/subjek yang lain.

Sebagai contoh, setiap pemain bola memiliki nomor punggung yang berbeda-beda. Selain sebagai identitas, pada level kelompok angka juga bisa sebagai klasifikasi atau kategorisasi. Sebagai contoh, laki-laki diberi angka 1 dan perempuan 0. Karena fungsinya hanya sebagai identifikasi, maka angka dapat diganti-ganti, asal tidak ada yang sama. Oleh karena tidak makna kuantitatif pada angka ini, mengakibatkan angka nominal tidak bisa dikenakan operasi hitung.

Data Ordinal
Angka ordinal adalah angka yang berfungsi untuk menunjukkan adanya penjenjangan kualitatif atau secara sederhana angka ini menunjukkan sebuah peringkat. Jarak jenjang antara dua angka yang berurutan juga selalu sama dan karena itu operasi hitung tambah dan kali juga tidak dapat dikenakan.

Contoh angka ordinal adalah dalam pemberian rangking di kelas. Misalkan peringkat pertama memperoleh skor total 88, peringkat kedua memperoleh skor total 87, dan peringkat ketiga memperoleh skor total 69. Meskipun jarak skor peringkat pertama-kedua, dan peringkat kedua-ketiga sangat berbeda, namun urutan rangkingnya tetap rangking 1,2, dan 3. Angka dalam hal ini boleh berubah, namun urutan harus tetap sama.

Data Interval
Angka interval pada dasarnya adalah hasil pengukuran ordinal yang memiliki jarak antar jenjang yang tetap (selalu sama). Jadi dalam urutan 1,2,3, jarak antara 1 dan 2 sama dengan jarak 2 dan 3. Sebagaimana angka ordinal, angka interval juga tidak memiliki nol mutlak, sehingga tidak bisa dikatakan 6 adalah dua kali 3.

Salah satu contoh angka interval adalah suhu. Jarak antara suhu 25 derajat celcius dengan 50 derajat celcius sama dengan jarak antara suhu 50 derajat celcius dengan suhu 75 derajat celcius. Namun kita tidak bisa mengatakan 50 derajat celcius adalah dua kali lebih panas dari 25 derajat celcius. Begitu juga kita tidak bisa mengatakan bahwa 0 derajat celcius berarti tidak memiliki suhu.

Data Rasio
Angka rasio pada dasarnya adalah angka interval yang memiliki angka nol mutlak, artinya angka nol dalam skala ini memang menunjukkan bahwa atribut yang diukur memang tidak ada pada objek. Ukuran berat, panjang, waktu adalah contoh data pada level rasio. Dengan ada angka nol mutlak, maka pada level ini dapat dikenakan level hitung perkalian dan penambahan. 
Secara ringkas, jenis data penelitian dapat dilihat dalam bagan di bawah ini.

Sumber gambar: http://www.guruipsku.com/2017/05/macam-macam-data-penelitian.html 

Referensi

 Azwar, S. (2015). Dasar-dasar Psikometri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Pensiunan guru SD yang sudah promosi menjadi dosen Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Artikel Lainnya