Signifikansi, Effect Size, Statistical Power, dan Besaran Sampel


Bagi peneliti kuantitatif, konsep dari signifikansi, besaran efek (Effect Size), kekuatan uji statistik (Statistical Power), dan besaran sampel merupakan konsep dasar yang harusnya dipahami. Namun kenyataannya, di mata kuliah statistika, tidak semua dosen menjelaskan konsep dasar ini, dan tidak semua dosen menjelaskan dengan tepat empat konsep ini. Penelitian Psikologi, terutama yang menggunakan pendekatan eksperimen sebagian besar ingin membandingkan apakah terdapat perbedaan variabel antara dua kelompok atau lebih. Misalnya sebuah penelitian ingin menguji apakah terapi psikologis mampu meningkatkan kepercayaan diri subjek. Penelitian dilakukan dengan desain between subject dengan kelompok kontrol dan eksperimen, dimana kelompok kontrol tidak diberi terapi, sedangkan kelompok eksperimen diberi terapi. Penelitian tersebut memiliki hipotesis bahwa “terdapat perbedaan kepercayaan diri antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, dimana kelompok eksperimen memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi”.

Statistik inferensial tradisional tidak menguji hipotesis tersebut, melainkan menguji hipotesis null yang menyatakan bahwa “tidak ada perbedaan kepercayaan diri antara kelompok kontrol dan eksperimen”. Pendekatan ini sering disebut dengan Null Hypothesis Significance Testing (NHST). Peneliti melakukan uji statistik dengan independent sample t-test. Jika probabilitas jangka panjang data yang diobservasi muncul di bawah hipotesis null sangat rendah (misal di bawah 5%), peneliti menyimpulkan bahwa hipotesis null sangat kecil kemungkinannya untuk benar. Karena sangat kecil kemungkinan bahwa hipotesis null benar, maka peneliti menolak hipotesis null, dan menyimpulkan bahwa terapinya memberikan efek positif terhadap kepercayaan diri. Uji statistik tradisional ini memiliki beberapa paramater untuk memastikan kesimpulan tepat, yakni kriteria signifikansi, Effect Size, dan Statistical power, dan besaran sampel. Tulisan ini akan memberikan gambaran empat konsep ini dan bagaimana hubungan di antara keempatnya.

Kriteria Signifikansi
Dalam statistik tradisional, kesalahan Tipe I dilambangkan dengan simbol α (alfa), dan merupakan probabilitas jangka panjang sebuah penelitian menolak hipotesis null, ketika hipotesis null benar. Sebagian besar penelitian Psikologi dan humaniora memberikan toleransi 5% (α = 0.05) terhadap terjadinya kesalahan Tipe I atau atau biasa disebut false positives. Hal ini berarti, dalam pengambilan data yang dilakukan berkali-kali dengan batas tidak terhingga, terdapat kemungkinan 5% atau kurang bahwa efek yang ditemukan dalam observasi sebenarnya tidak ada. Toleransi terhadap kesalahan Tipe I dilambangkan dengan p, sehingga nilai p di bawah 0,05 (di bawah batas toleransi) dianggap sebagai temuan yang signifikan dan sebaliknya. Dalam contoh penelitian eksperimen di atas, jika menggunakan kriteria p < 0,05 artinya peluang peneliti salah menyimpulkan bahwa terapinya memiliki efek positif, padahal terapi tersebut tidak memiliki efek positif adalah sebesar 5%.

Kekuatan uji statistik (statistical power)
Dalam statistik tradisional, kesalahan Tipe II dilambangkan dengan simbol β (beta), dan merupakan probabilitas jangka panjang sebuah penelitian gagal menolak hipotesis null, ketika hipotesis null tidak benar. Kekuatan uji statistik (power) dalam statistik inferensial tradisional merupakan kontrol terhadap kesalahan Tipe II atau disebut juga sebagai false negatives (1- β). Sebagian besar penelitian Psikologi dan humaniora memberikan toleransi 20% terjadinya kesalahan Tipe II, sehingga penelitian-penelitian tersebut memiliki Statistical power sebesar 80% (Cohen, 1990). Hal ini berarti, dalam pengambilan data yang dilakukan berkali-kali dengan batas tidak terhingga, terdapat kemungkinan 80% atau lebih untuk menyimpulkan bahwa suatu efek tidak ada, ketika efek tersebut memang tidak ada.

Secara umum antara signifikansi (α) dan Statistical power (1- β) memiliki hubungan yang positif. Seperti terlihat pada gambar di bawah, jika kita meningkatkan level signifikansi (α), maka kita akan mengurangi daerah penerimaan hipotesis null. Berkurangnya daerah penerimaan ini secara otomatis meningkatkan nilai beta. Meningkatnya nilai beta akan menunjukkan nilai kekuatan uji bertambah.   

Besaran efek (effect size)
Besaran efek (effect size) menunjukkan perbedaan terstandar antara skor dari kelompok kontrol dan eksperimen. Dalam penelitian, peneliti tidak hanya tertarik pada perbedaan antara kelompok kontrol dan eksperimen, namun juga seberapa besar perbedaan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Effect Size merupakan satuan standar, artinya, Effect Size dapat dibandingkan antar beberapa skala yang berbeda dan dapat dibandingkan antar beberapa penelitian dengan besaran sampel yang berbeda-beda. Dalam contoh penelitian eksperimen di atas, Effect Size yang dapat digunakan adalah Cohen’s d, yang semakin besar nilainya maka semakin besar perbedaan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Effect Size ada beragam jenisnya sesuai jenis analisanya, misal Effect Size untuk uji beda dua kelompok menggunakan Cohen’s d, Effect Size uji korelasi menggunakan koefisien r, dan Effect Size Anova menggunakan Eta squared. Klasifikasi Effect Size pada berbagai jenis analisis dapat dilihat pada tabel di bawah.

Besaran sampel
Besaran sampel dalam statistik inferensial tradisional dapat dihitung dengan memanfaatkan dinamika relasi antara parameter-parameter yang telah dijabarkan sebelumnya. Formula untuk menentukan besaran sampel berdasarkan tiga paramater sebelumnya adalah sebagai berikut.

Besaran sampel uji beda dua kelompok

Besaran sampel uji korelasi


Sebagai contoh, jika penelitian eksperimen di atas menghendaki kriteria signifikansi p < 0,05 two-tailed dan power, 1-β = 0,80 dan mengharapkan Effect Size sebesar 0,5. Dengan demikian dapat dihitung Z1-α/2 = 1,960 dan Z1-β = 0,842 (menggunakan tabel distribusi normal) sehingga diperoleh besaran sampel 2*((1,960+0,842)/0,5)^2 = ~ 64 subjek per kelompok.

Bagaimana jika peneliti hanya menggunakan 30 subjek saja per kelompok? Dengan memasukan ke formula, dengan Effect Size dan kriteria signifikansi yang sama, maka akan diperoleh power sebesar 0,478. Hal ini berarti, penelitian dengan sampel 30 subjek memiliki taraf kesalahan Tipe II sebesar 52,2%. Dengan kata lain, terdapat 52,2% kemungkinan dalam penelitian ini untuk menolak hipotesis null, padahal hipotesis null tersebut benar. Taraf kesalahan sebesar 52,2% ini melebihi toleransi kesalahan Tipe II sebesar 20% dalam sebagian besar penelitian Psikologi dan humaniora.

Ketika kesalahan Tipe I dan II dikontrol, secara umum hubungan antara Effect Size dan jumlah sampel dapat ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
Dari gambar terlihat bahwa Effect Size memiliki hubungan negatif dengan jumlah sampel. Untuk mendeteksi Effect Size yang kecil, dibutuhkan sampel yang lebih banyak, dan sebaliknya. Selain itu, Effect Size memiliki relasi eksponensial dengan besaran sampel. Ketika Effect Size yang diharapkan kecil, maka jumlah sampel yang dibutuhkan untuk mendeteksi suatu efek bertambah secara eksponensial menjadi sangat besar dan sebaliknya.

Dalam penelitian psikologi dan humaniora seringkali peneliti mengontrol taraf kesalahan Tipe I, namun tidak mengontrol taraf kesalahan Tipe II dan tidak mempertimbangkan Effect Size dalam pengambilan keputusan. Ketika taraf kesalahan Tipe II tidak dikontrol, Effect Size yang terhitung biasanya merupakan overestimasi, dan ketika Effect Size ini digunakan untuk menghitung Statistical power dalam penelitian replikasi, hasil penelitian sebagian besar tidak mereplikasi temuan sebelumnya. Oleh karena itu, dalam menentukan sampel, peneliti hendaknya memperhatikan keempat paramater tersebut.

Pensiunan guru SD yang promosi menjadi dosen Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang. Sekarang balik lagi jadi mahasiswa di Benua Biru

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 komentar:

Write komentar
May 29, 2020 at 9:25 PM delete

Great post i must say and thanks for the information. Education is definitely a sticky subject. However, is still among the leading topics of our time. I appreciate your post and look forward to more.

PMP Certification

PMP Certification in Malaysia

Reply
avatar

Artikel Lainnya